Hubungan Erupsi Gunung Merapi di Sleman Dan Gempa Bumi Mamuju-Majene

  • Whatsapp
Ir. Hasddin

GATENEWS – KENDARI : Tulisan ini merupakan buah fikir untuk menghubungkan fenomena Erupsi Gunung Merapi yang terjadi di Sleman, Yogyakarta (Desember 2020-Januari 2021) dengan kejadian gempa bumi di Mamuju-Majene 14 Januari 2021. Kemudian tulisan ini memperkecil objek kajian yakni hubungan antara gunung (fungsi), Manusia, gempa dan kerentananya.

Fungsi Gunung, Saya megawali dengan mungutip, ayat di Al Qur’an “Dan Dia (Allah SWT) menancapkan gunung-gunung di Bumi supaya Bumi itu tidak berguncang bersama kamu, (dan Allah menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk” (Surah An-Nahl Ayat 15). Artinya bahwa hakikatnya gunung itu menjaga (berfungsi) untuk mencegah terjadinya guncangan atau gempa. Lalu kata “Jalan” bermakna dua yakni fungsi gunung sebagai penyimpan dan mengalirkan air serta kemampuan mengambil hikmah agar kita waspada. Karena sebagai pelindung maka disebut pula sebagai pasak. Ini kemudian diperkuat dengan ayat lain dalam Al-Qur’an bahwa “Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan, dan gunung-gunung sebagai pasak” (An Naba: 6-7).

Dikutip dari Bambang Pragono (2008) dalam bukunya berjudul “Mukjizat Sain Dalam Al-Quran: Mengenali Inspirasi Ilmia”, fungsi gunung (termasuk gunung Merapi) adalah sebagai kestabilan bumi. Seorang Profesor bernama Emeritus Frank Press, (dari AS) bahwa gunung-gunung mempunyai akar di bawah mereka. Akar ini menghunjam dalam, sehingga seolah gunung-gunung mempunyai bentuk bagaikan pasak, maka hal ini tentu sejalan dengan Surah An-Naba: 6-7. Fungsi lain dari gunung (merapi) adalah dapat menyuburkan tanah, menghasilkan material yang bermanfaat (pasir dan batuan) dan penyimpan air (dan mengalirkannya ke daerah lebih rendah).

Merujuk dari Surah An-Nahl:15, maka jauh sebelum manusia ada idelanya gunung berfungsi sebagai pasak bumi sehingga terhindar dari guncangan. Lalu, ketika manusia ada dengan “napsu” memanfaatan sumberdaya alam secara berlebihan maka tentu itu berkonsekuensi terhadap kestabilan bumi (Ini kemudian diperkuat nanti diuraian kerak dan lempeng dibawah)

Apakah daerah sekitar Gunung lebih rentan terhadap daerah non pegunungan?


Jawabanya tidak ada jaminan daerah yang jauh dari pegunungan (Merapi) lebih aman, justru pada daerah ini menimbulakn bencana alam lebih parah dan dahsyat, mengapa?, alasanya Pertama adalah bahwa gunung itu sebagai pasak atau perisai, maka daerah jauh atau bukan pegunung topografinya lebih labil sehingga lebih rentan terhadap bencana (longsor, penuruan permukaan tanah, likuifaksi seperti di Palu dan bencana lainnya). Kedua bahwa Permukaan bumi atas itu dalam ilmu geologi disebut dengan kerak bumi, kerak bumi ini rupanya bergerak diatas suatu lapisan yang dinamakan Mantle (seperti fungsi jaget), disumber lain disebut sebagai litosfir (batuan dingin). Mantle masanya lebih besar dari kerak bumi, jika hal ini tidak ada yang mengedalikan (mengingkat) maka akan terjadi pergerakan kerak bumi maka gonjanganya semakin besar, hal ini banyak terjadi di Indonesia yang daerah jauh dari Gunung Berapi malah beresiko tinggi terhadap gempa, ini pula-lah yang terjadi pada Gepa Mamuju-Majene, Kamis 14 Januai 2020, gempa di Sulawesi Tenggara tahun 2011 silam atau gempa Palu 2018 silam.

Apa hubungannya Erupsi dan Gempa


Ketika terjadi Letusan Gunung berapi, maka akan terjadi pergerakan besar di bagian lapisan (kerak) bumi yang akan menyebabkan suatu gerakan atau di sebut gempa. Sebagian Wilayah Sulawesi itu dilalui oleh lempeng-tektonik, sehingga besar kemungkinan erupsi gunung Merapi di Sleman berhubungan dengan (sebagai penyebab) kejadian gempa di Mamuju-Majene (Hipotesa ini menjadi Peluang untuk Penelitian ilmu Kegempaan). Terkecuali di Kalimantan sebab wilayah ini tidak dilalui oleh aliran tektonik.

Apa Hikmahnya?


Jika kita telusuri, data intensitas gempa lebih rendah dibanding dengan dua (2 dekade) terakhir. Dalam kurung waktu tahun 2000-2019 ada sekitar 32 kali gempa yang berdampak merusak dengan kekuatan diatas 5 skala richter, sementara kurung waktu 1700-1995 hanya sekitar 13 kali. Hal ini tentu menghadirkan beragam hipotesia, sebagai penulis lebih tertuju pada peningkatan jumlah penduduk yang diikuti kegiatan “pengerukan bumi” sebagai pemuas kebutuhan manusia. Kita meski waspada sebab wilayah kita (Sultra) juga masuk dalam wilayah rawan gempa. Namun yang terpenting adalah menguji hipotesa kita sendiri yakni bagaimana hubungan kita dengan alam dan Pencipta terhadap “Kegalauan” dalam menghapi Bencana Alam. Wallahu a’lam bish-shawabi.

Oleh : Ir. Hasddin (Dosen Perencanaan Wilayah dan Kota, Universitas Lakidende) Kendari 14 Januari 2021).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *