Jelang Lebaran, Masyarakat Diminta Waspadai Peredaran Uang Palsu

  • Whatsapp

Miyono, Pemimpin BI Sulteng

PALU, GateNews.id- Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulteng terus berupaya untuk mengantisipasi peredaran uang palsu. Apalagi di situasi jelang Lebaran Idul Fitri.
Dimana kebutuhan terhadap uang tunai meningkat, bisa jadi peluang bagi oknum-oknum pengedar uang palsu (upal) .

Pemimpin BI Sulteng, Miyono, mengatakan dalam upaya mengantisipasi peredaran upal, pihak BI menghimbau kepada masyarakat agar lebih waspada. Dan diharap masyarakat harus pandai membedakan uang asli dan uang palsu.

Disisi lain, pihak BI juga secara intensif memitigasi resiko penyebaran uang palsu dengan melakukan sosialisasi tentang ciri-ciri keaslian uang Rupiah/CIKUR. Tujuannya adalah untuk mengedukasi masyarakat, kata Miyono.

Cara termudah untuk mengetahui keaslian uang rupiah dapat dilakukan dengan cara 3D yaitu Dilihat, Diraba dan Diterawang.

Secara rinci dijelaskan, Dilihat dari Warna uang yang asli akan terlihat terang dan jelas. Ada benang pengaman seperti dianyam pada uang Rupiah, Khusus untuk pecahan Rp100.000 dan Rp50.000 akan berubah warna jika dilihat dari sudut pandang tertentu.

Diraba, hasil cetak terasa kasar ketika diraba, terdapat kode Tuna netra ( Kode Buta ) di sisi kanan dan kiri uang yang akan terasa kasar jika diraba ( Tactile).

Diterawang, ada tanda air ( watermark ) berupa gambar pahlawan dan ornamen pada pecahan tertentu.

Namun diakuinya bahwa terkait peredaran upal ini, pihak BI tidak bisa memetakan daerah mana yang menjadi tempat yang rawan dalam peredaran upal.

” Sampai saat kami belum memetakan secara khusus daerah rawan UPAL. Dan kamipun belum menerima laporan secara masih tentang adanya penemuan Upal,” jelas Miyono.

Perlu diketahui bahwa tahun ini, terhitung dari Januari hingga Mei 2019, dipihak BI telah tercatat sebanyak 66 lembar uang palsu. Itupun didominasi oleh pecahan Rp100 ribuan.

” Dibanding tahun sebelumnya, penemuan upal di 2019 ini trennya cenderung semakin menurun,” tutur Miyono.

Berdasarkan pengalaman sebelumnya, potensi peredaran UPAL terdapat di Kota Palu. Sementara di kabupaten lainnya di Sulteng, masih nihil.

” Kita berharap semoga saja dengan antisipasi yang dilakukan oleh pihak BI Sulteng dapat meminimalisir peredaran uang palsu di daerah ini, ” pungkasnya.

REDAKTUR : NILA

Pos terkait