Mengukur Kemampuan Abdul Halim dari Mata Muridnya

  • Whatsapp
Abdul Halim

Jika ada yang bertanya; ilmu apa yang paling kompleks yang pernah anda tahu? Ternyata jawabannya bukan ilmu fisika, kimia, biologi, sosial, ekonomi atau yang lainnya.

Tetapi, ilmu yang dimaksud adalah ilmu tentang pembangunan. Kenapa bisa? Karena ia menghubungkan seluruh disiplin ilmu (multidisiplin), serta seluruh sektor kehidupan masyarakat (multisektor).

Ilmu pembangunan tidak hanya meramu ilmu fisika dan kimia menjadi konstruksi bangunan dan materialnya, tetapi pada saat yang sama memerlukan perspektif lingkungan dari ilmu biologi agar bangunannya menjadi asri dan estetis. Tidak cukup sampai di situ, juga memerlukan ilmu sosial dan ekonomi agar tercipta suasana kerukunan antar warga serta dapat memberi dampak pada pertumbuhan ekonomi, misalnya.

Ilmu pembangunan tidak hanya membicarakan tentang masalah pertanian, perikanan, kehutanan, dan aneka sektor lainnya secara tunggal, tetapi selalu mempertimbangkan keterkaitan seluruh sektor, agar tidak saling meniadakan, tetapi kesemuanya saling menopang untuk kemaslahatan masyarakat.

Oleh karena itu, kegiatan pembangunan memerlukan aktornya tersendiri, dan bukan ajang untuk ujicoba kebijakan perencanaan dan anggaran. Bahkan, lebih jauh dari itu, pembangunan tidak hanya memerlukan aktor yang mengetahui ilmunya semata, tetapi aktor yang diharapkan adalah yang menguasai ilmunya dan sekaligus memahami penerapannya.

Salah satu tokoh langka yang memenuhi kriteria ini adalah Abdul Halim. Seorang putra asal Wawonii, Konawe Kepulauan. Jejak rekamnya memenuhi syarat seorang yang ‘kholash’ sebagai pegiat sekaligus teknokrat pembangunan, khususnya di regional Pulau Sulawesi.

Jika pembangunan itu memerlukan pendekatan partisipatory, teknokratik, dan top down – bottom up, maka ia telah melaluinya, bahkan ia telah membelajarkan pengalamannya kepada banyak orang, bahkan di antara murid-muridnya berhasil menyandang capaian sebagai ‘Master Facilitator’, hingga ia pantas menyandang sebutan sebagai ‘Guru Para Master Fasilitator dan Perencana Pembangunan’.

Ia telah melatih puluhan, bahkan ratusan orang untuk menjadi tenaga fasilitator masyarakat dan perencana, di sejumlah Kabupaten di seluruh provinsi di Sulawesi. Tidak ada yang menyangka, jika murid-muridnya telah banyak yang berposisi sebagai perencana di sejumlah OPD di Kabupaten Se-Regional Sulawesi.

Tak tanggung-tanggung ilmu dan teknik yang diajarkannya langsung bersanad pada tokoh utama ilmu fasilitasi masyarakat level internasional, penemu dan pengonsep ilmu dan teknik meta-fasilitasi masyarakat, yakni Wada San dan Nakata San asal Negeri Sakura, Jepang.

Sementara itu, ilmu perencanaannya langsung bersanad pada Prof. Ohama melalui ilmu dan teknik Participatory Local Social Development (PLSD), suatu ilmu dan teknik meng-kolaborasikan situasi desa dan situasi lokal (kabupaten) hingga nasional, bahkan internasional.

Pada kedua pengalaman tersebut —meta-fasilitasi dan PLSD— sampailah ia pada derajat kompetensi di atas rata-rata aktor pembangunan yang ada hari ini. Kenapa demikian? Oleh karena ia telah menjadi kamus hidup bagi ilmu dan teknik pembangunan itu sendiri.

Mungkin ada yang bertanya: bukankah meta-fasilitasi dan PLSD itu sekedar tumpukan teori semata? Tentu saja iya, dalam posisinya sebagai konsep, bahkan ia sangat mengetahui kelebihan dan kekurangannya berdasarkan pengalamannya mempesertai, mempanitiai, bahkan mempertanggungjawabkan puluhan kali kegiatan perencanaan, sejak nusrenbang dusun, desa, kecamatan, kabupaten, regional, hingga nasional.

Ia pernah aktif sebagai pegawai bappeda provinsi dan kabupaten, bahkan pernah menjadi kepala bidang, sekretaris badan, dan kepala bappeda. Belum lagi, sejumlah kegiatan diklat yang ia ikuti berkaitan dengan perencanaan dan kebijakan pembangunan, semakin memantapkan dirinya sebagai seorang teknokrat pembangunan.

Kalau ia dikenal sangat mahir dengan berbagai pendekatan pembangunan; partisipatory, teknokratik, dan top down – bottom up, lalu bagaimana dengan pendekatan politik-nya?

Justru ia dikenal sebagai salah seorang founding father (pendiri) Kabupaten Konawe Kepulauan. Bukankah perjuangan untuk pembentukan Kabupaten Konkep penuh dengan pendekatan politik?

Ia telah membuktikannya. Termasuk keluasan jejaringnya ke berbagai lembaga mitra pembangunan, di antaranya adalah JICA.

Satu lagi yang tak banyak dikenal orang, jika ia adalah seorang pembelajar. Salah satu tokoh idola yang selalu ia jadikan rujukan adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali ath-Thusi asy-Syafii. Yang ia maksud adalah Syeikh Imam Al-Ghazali, seorang ahli ilmu, filsuf juga ahli zuhud yang dikenal sebagai Hujjatul Islam.

Sunarwan Asuhadi, Alumni Program Magister IPB

Pos terkait